Kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Bidang Pariwisata oleh Dosen UIN Mataram di UHN Sugriwa

Pariwisata Pro-Ekonomi Lokal, Bangun Toleransi (Dosen UIN Mataram Diseminasi Penelitian di UHN Sugriwa)

Denpasar (Cahaya Dharma)

Pembangunan pariwisata yang memberikan keuntungan lebih besar kepada masyarakat lokal membangun toleransi masyarakat Islam. Karena masyarakat Islam menyadari bahwa pariwisata adalah berkah dari Tuhan.

Demikian diseminasi hasil penelitian yang disampaikan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr.H. Kadri, M.Si di Kampus Bangli, Kamis (25/8). Diseminasi hasil penelitian ini disampaikan Dr.H.Kadri, M.Si, Dr. Jumarim, M.HI, dan Dr. Akhmad Asyari, M.Pd. Para peneliti ini diterima Dekan Fakultas Dharma Duta (FDD), Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag dan Wakil Dekan I FDD, Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag.

Diseminasi penelitian ini diikuti dosen dan mahasiswa Fakultas Dharma Duta, UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Penelitian yang didiseminasikan berjudul “Model Penguatan Keagamaan Masyarakat Kepulauan dan Promosi Islam Toleran pada Destinasi Wisata Internasional”. Diseminasi ini dipandu Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag.

Kadri menjelaskan, masyarakat Islam menerima pariwisata sebagai berkah Tuhan. Pariwisata itu seperti keindahan pantai, gunung, dan sawah yang merupakan berkah Tuhan. Berkah Tuhan itu adalah berkah untuk semua umat manusia sehingga bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia. “Seperti Islam yang merupakan berkah bagi seluruh umat manusia, demikian juga keindahan alam,” katanya.

Berkah Tuhan itu, katanya, dinikmati masyarakat lokal (Lombok) melalui keuntungan pariwisata. Dengan mendapatkan nikmat dari keuntungan ini, masyarakat lokal (Islam) menjadi menerima kedatangan wisatawan dari berbagai kalangan yang berbeda. Hal itu terjadi karena keindahan alam dan aktivitas pariwisata menjadi nikmat bersama. “Awalnya memang pragmatis,”katanya.

Asyari menambahkan, pragmatisme ini kemudian membangun kesadaran bahwa pariwisata juga mengandung berbagai dampak. Dampak-dampak ini kemudian mulai disadari sehingga ada usaha bersama untuk mengatasi dampak-dampak tersebut. Usaha-usaha ini juga dibangun pemerintah dan masyarakat itu sendiri. “Usaha ini menjadi tugas bersama,”katanya.

Pemerintah, katanya, melakukan berbagai penyadaran untuk mengatasi dampak tersebut. Masyarakat secara mandiri juga membangun perkumpulan-perkumpulan untuk mengatasi dampak tersebut. Karena itu, pragmatism ini kemudian juga membangun kesadaran untuk mengatasi dampak pariwisata. “Pada awalnya pragmatis, tetapi kemudian terbangun kesadaran,”katanya.

Kadri menyatakan, kesadaran ini membuat masyarakat Islam memiliki toleransi terhadap perkembangan pariwisata, karena telah terbangun kekuatan dari dalam untuk mengatasi berbagai dampak yang terjadi. Hal ini seperti di Bali, yang mana pariwisata membangun budaya Bali. “Yaitu seperti di Bali, di mana pariwisata membangun budaya Bali,”katanya.

Dosen Prodi Industri Perjalanan Fakultas Dharma Duta, I Nengah Alit Nuriawan, M.Par menyatakan, model pariwisata pada masyarakat Islam tersebut sangat bagus. Karena itu, model ini sangat tepat untuk dilaksanakan secara sistemik dan holistik, sehingga pariwisata benar-benar menjadi anugrah bagi masyarakat lokal, dengan kekuatan dari dalam untuk mengendalikan dampak-dampaknya.

Kadri menyatakan, model ini menjadi masukan untuk membangun promosi Islam toleran, sebab Islam sebenarnya adalah berkah bagi seluruh umat manusia. Karena itu, Islam adalah cinta damai sehingga masyarakat Islam terbuka untuk dikunjungi wisatawan. Destinasi-destinasi wisata pada masyarakat Islam menunjukkan hal itu, seperti destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang di dalamnya ada Gili Terawangan dan sebagainya.