Denpasar, Dharma Duta - Ada cara sederhana untuk melihat kedekatan manusia dengan alam dalam kehidupan masyarakat Bali. Salah satunya melalui Tumpek Kandang, hari suci yang mengajarkan umat Hindu untuk menghormati dan menyayangi satwa sebagai sesama ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Perayaan Tumpek Kandang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan umat Hindu di Bali. Pada hari tersebut, masyarakat melaksanakan persembahyangan dan memberikan perhatian kepada hewan yang berada di lingkungan mereka. Hewan ternak maupun hewan peliharaan dirawat, diberikan makanan, serta didoakan melalui rangkaian upacara sesuai dengan tradisi masing-masing.
Nilai kasih terhadap makhluk hidup sebenarnya bukan gagasan yang baru dalam ajaran Hindu. Dalam berbagai sumber sastra Hindu, manusia ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan yang saling berkaitan. Salah satu ajaran yang sering digunakan untuk menjelaskan hubungan tersebut adalah Tat Twam Asi, sebuah pandangan bahwa diri kita memiliki keterhubungan dengan makhluk lain. Dalam Sārasamuccaya Sloka 2, misalnya, manusia diingatkan mengenai kesempatan dan tanggung jawab yang dimilikinya untuk memilih serta melakukan perbuatan baik.
“Ri sakwehning sarwa bhuta, ikang janma wwang juga wenang gumawayakên ikang subhakarma.”
Secara sederhana, ajaran tersebut dapat dimaknai:
“Di antara semua makhluk hidup, manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan baik.”
Kutipan tersebut merupakan Sārasamuccaya Sloka 2, sebagaimana tercantum antara lain dalam Sarasamuccaya terjemahan I Nyoman Kajeng dan sumber-sumber pembelajaran Hindu.
Pesan yang terkandung di dalamnya terasa dekat dengan pemaknaan Tumpek Kandang. Manusia memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana ia bersikap terhadap kehidupan di sekitarnya. Kemampuan itu sekaligus membawa tanggung jawab untuk mengarahkan tindakan kepada śubhakarma, termasuk dalam memperlakukan satwa dan menjaga lingkungan.
Dekan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag., mengatakan bahwa pesan tersebut masih sangat relevan dalam kehidupan saat ini.
“Tumpek Kandang mengajarkan kita untuk memiliki rasa kasih terhadap seluruh makhluk hidup. Manusia tidak hidup sendiri. Ada lingkungan dan berbagai makhluk yang juga menjadi bagian dari kehidupan kita. Karena itu, memperlakukan satwa dengan baik merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap kehidupan,” ujar I Nyoman Ananda.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, hubungan tersebut kemudian tercermin melalui berbagai bentuk ritual dan tradisi. Pada Tumpek Kandang, perhatian diberikan kepada satwa sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Hewan yang selama ini membantu kehidupan manusia, baik sebagai ternak maupun bagian dari kehidupan rumah tangga, mendapatkan perlakuan khusus.
Di balik rangkaian tersebut terdapat pesan yang cukup sederhana: manusia tidak semestinya mengambil manfaat dari alam tanpa memikirkan kehidupan yang ada di dalamnya.
Hal ini pula yang membuat Tat Twam Asi memiliki kaitan kuat dengan pemaknaan Tumpek Kandang. Ketika seseorang mampu melihat makhluk lain sebagai bagian dari kehidupan yang juga patut dihormati, muncul kesadaran untuk tidak menyakiti dan memperlakukannya secara semena-mena.
Menurut I Nyoman Ananda, pemaknaan terhadap hari suci hendaknya dapat dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai yang kita pelajari dari Tumpek Kandang dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kasih kepada satwa bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memberikan makanan yang layak, merawatnya dengan baik, dan tidak menyakiti. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa semua kehidupan memiliki nilai,” jelasnya.
Pemahaman tersebut juga berhubungan dengan Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis manusia dengan alam atau palemahan. Menjaga lingkungan, memperhatikan kesejahteraan satwa, dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab merupakan bentuk nyata dari upaya menjaga keseimbangan tersebut.
Tumpek Kandang pada akhirnya mengajak manusia untuk melihat kembali hubungan yang selama ini mungkin dianggap biasa. Hewan yang dipelihara, lingkungan yang ditempati, dan alam yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup merupakan bagian dari kehidupan yang saling terhubung.
Karena itu, nilai Tumpek Kandang tidak berhenti pada pelaksanaan upacara. Ia dapat hadir dalam tindakan sehari-hari dalam cara manusia merawat hewan, menjaga lingkungan, dan memperlakukan setiap makhluk hidup dengan rasa hormat.
Di situlah pesan hari suci ini menemukan maknanya: menghormati kehidupan bukan hanya dilakukan melalui upacara, tetapi juga melalui cara manusia menjalani kehidupannya.
Catatan: Gambar merupakan ilustrasi yang dibuat menggunakan Gemini AI.
Galeri Foto