Wakil Dekan III FDD Hadir sebagai Narasumber RRI Pro 4 Denpasar, Bahas Seni Sakral dalam Masyarakat Modern

Wakil Dekan III FDD Hadir sebagai Narasumber RRI Pro 4 Denpasar, Bahas Seni Sakral dalam Masyarakat Modern
Berita 20 Sep 2026 Denpasar dilihat

Denpasar, Dharma Duta - Peran akademisi dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai seni dan kebudayaan kembali mendapat ruang melalui siaran RRI Pro 4 Denpasar. Dr. I Gst. Ngr. Pertu Agung, S.Sn., M.Ag., Wakil Dekan III Fakultas Dharma Duta Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, hadir sebagai narasumber dalam program yang mengangkat tema “Seni Sakral dalam Masyarakat Modern”, Rabu (23/9/2026).

Program yang disiarkan pada pukul 12.00–13.00 WITA tersebut menghadirkan Pertu Agung sebagai narasumber dari Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) DPD Bali. Dialog dipandu oleh Dede Mahendra dan membahas keberadaan seni sakral di tengah perubahan masyarakat modern, termasuk bagaimana seni yang memiliki nilai spiritual dan religius tetap dapat dipahami, dihormati, serta diwariskan di tengah perkembangan zaman.

Kehadiran akademisi Fakultas Dharma Duta dalam ruang dialog publik tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperluas literasi masyarakat mengenai kebudayaan. Seni sakral tidak hanya dapat dilihat sebagai ekspresi estetika, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan nilai keagamaan, tradisi, identitas masyarakat, serta hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan budayanya.

Dalam konteks masyarakat modern, keberadaan seni sakral menghadapi dinamika yang semakin kompleks. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, industri pariwisata, serta cara generasi muda berinteraksi dengan budaya turut memengaruhi bagaimana kesenian tradisional dipahami dan dipraktikkan. Karena itu, pembicaraan mengenai seni sakral perlu ditempatkan tidak hanya dalam kerangka pelestarian, tetapi juga pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya.

Bagi Fakultas Dharma Duta, keterlibatan Dr. I Gst. Ngr. Pertu Agung, S.Sn., M.Ag. dalam dialog kebudayaan tersebut menunjukkan bahwa peran akademisi tidak berhenti di ruang perkuliahan. Pengetahuan yang berkembang di lingkungan kampus juga memiliki ruang untuk dibagikan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi publik, termasuk media penyiaran.

Dekan Fakultas Dharma Duta, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag., mengapresiasi keterlibatan Wakil Dekan III dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran akademisi FDD dalam forum publik menjadi bagian dari kontribusi fakultas untuk memperluas jangkauan pengetahuan sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan masyarakat.

Dekan juga menilai pembahasan mengenai seni sakral memiliki relevansi dengan bidang keilmuan yang berkembang di Fakultas Dharma Duta. Persoalan kebudayaan, komunikasi, pariwisata, penerangan agama, hingga kewirausahaan memiliki keterkaitan dengan bagaimana nilai-nilai budaya dipahami, dikomunikasikan, dilestarikan, dan dikembangkan secara bertanggung jawab di tengah perubahan masyarakat.

Melalui dialog di RRI Pro 4 Denpasar, pembahasan seni sakral diharapkan dapat membuka ruang pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai tradisi dan kemampuan masyarakat untuk merespons perubahan zaman. Terlebih bagi generasi muda, pemahaman terhadap makna seni dan budaya menjadi bagian penting agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi tetap dipahami sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat.

Siaran RRI Pro 4 Denpasar dapat diakses melalui frekuensi FM 106,4 MHz maupun kanal digital RRI. RRI Digital juga mencantumkan Pro 4 Denpasar pada frekuensi 106,4 MHz sebagai salah satu kanal siaran budaya RRI.

Keterlibatan akademisi Fakultas Dharma Duta dalam dialog publik seperti ini diharapkan terus berkembang. Kehadiran dosen di tengah masyarakat melalui media menjadi salah satu cara untuk membawa pengetahuan akademik keluar dari ruang kampus sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam merawat kebudayaan dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Bagikan: